Hukum Membawa Dompet Yang Ada Najisnya Ketika Shalat
عربي | English | Türkçe | Indonesia | فارسی | اردو
diedit oleh
227 Dilihat
0 Suara
Assalamualaikum, ini saya ambil contoh pada diri sendiri, Di dalam dompetku terselip barang najis yang tidak bisa dibuang / disuci, akhirnya bila tiap sholat dompet aku gletakin di depan/belakang aku berdiri, bagaimana itu hukumnya ?

[Abdullah Alif'alit Al-Jawi].
oleh
197rb Poin

1 jawaban

0 Suara
Wa'alaikumussalam.

Hukumnya boleh selama dompet itu tidak dibawa/menempel di badan atau pakaian pada saat sholat.

Karena di antara syarat sahnya shalat adalah kesucian tempat, badan dan apa yang dipakai/dibawa/menempel di badan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka shalat tetap dihukumi sah dengan syarat dompet tersebut tidak dibawa/menempel di badan atau pakaian.

وأما المكان فليكن كل ما يماس بدنه طاهرا (ح) وما لا يماس فلا بأس بنجاسته الا ما يحاذي صدره في السجود ففيه وجهان لانه كالمنسوب إليه) * يجب أن يكون ما يلاقى بدن المصلي وثيابه من موضع الصلاة طاهرا خلافا لابي حنيفة حيث قال لا يشترط الا طهارة موضع القدمين وفي رواية طهارة موضع القدمين والجبهة ولا يضر نجاسة ما عداه الا أن يتحرك بحركته …. ولو صلي علي بساط تحته نجاسة أو على طرف آخر منه نجاسة أو على سرير قوائمه على نجاسة لم يضر خلافا لابي حنيفة حيث قال ان كان يتحرك ذلك الموضع بحركته لم يجز
Artinya:
Yang dimaksud suci tempat shalatnya adalah setiap tempat yang bersentuhan dengan badan (juga pakaian) orang shalat, sedang yang tidak bersentuhan tidak bahaya najisnya kecuali tempat yang sejajar dengan dadanya saat sujud yang dalam masalah ini terdapat dua pendapat (yang salah satu pendapatnya menyatakan sujudnya tidak sah) karena tempat tersebut dinisbatkan juga area shalatnya.

Diwajibkan setiap tempat yang bertemu dengan badan, pakaiannya dalam keadaan suci. Berbeda menurut pendapat Abu Hanifah yang hanya mewajibkan sucinya tempat kedua telapak kakinya meski dalam riwayat lain beliau juga menyaratkan sucinya tempat kedua telapak kakinya dan dahinya dan tidak bahaya najis diselain tempat tersebut kecuali tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya.

Bila seseorang shalat sedang di bawah permadaninya, atau ujung tempat lainnya, atau shalat di atas ranjang yang tiang-tiangnya terdapat najis maka tidak bahaya berbeda dengan pendapat Abu Hanifah bila tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya maka tidak boleh.
[Syarh al-Wajiiz IV/34]. Wallaahu A'lamu Bis
Showaab. [Mbah
Jenggot, Masaji Antoro].

---
Tanggal Publikasi: 2011-11-06
Link Asal: https://www.piss-ktb.com/2011/11/632fiqh-sholat-bagaimana-hukumnya.html
diedit oleh
oleh
197rb Poin
[misc/was_useful]
[misc/was_useful_tell]

Pertanyaan serupa

1 Suara
1 Jawaban 169 Dilihat
Luken Ditanyakan 16 Jan 2023
169 Dilihat
Luken Ditanyakan 16 Jan 2023
oleh Luken
130 Poin
0 Suara
1 Jawaban 482 Dilihat
0 Suara
1 Jawaban 305 Dilihat
0 Suara
1 Jawaban 287 Dilihat
piss-ktb.com Ditanyakan 23 Jan 2023
287 Dilihat
piss-ktb.com Ditanyakan 23 Jan 2023
oleh piss-ktb.com
197rb Poin
0 Suara
1 Jawaban 126 Dilihat
piss-ktb.com Ditanyakan 16 Jan 2023
126 Dilihat
piss-ktb.com Ditanyakan 16 Jan 2023
oleh piss-ktb.com
197rb Poin