Keistimewaan Dan Amalan Di Malam Nisfu Sya'ban
عربي | English | Türkçe | Indonesia | فارسی | اردو
diedit oleh
167 Dilihat
0 Suara
-Assalamu alaikum wr.wb, mohon penjelasannya ustad,tentang keistimewaan malam nisfussa'ban,amalan dan doa apa yg di anjurkan oleh ulama'
oleh
200 Poin

1 jawaban

0 Suara
Keistimewaan Malam Nisfu Sya'ban

Bulan Sya'ban adalah bulan yang agung dengan keberkahannya yang masyhur, kebaikannya yang berlimpah, pahala agung berupa taubat dan ibadah di dalamnya yang merupakan usaha terbesar dalam mendapatkan keuntungan dan anugerah istimewa bagi seorang hamba.

barang siapa yang membiasakan dirinya giat beribadah di bulan Sya'ban, maka dia akan menyambut bulan Ramadhan dengan persiapan yang sempurna untuk mendapatkan beribu keistimewaan di dalamnya.

Sya'ban adalah bulannya Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam seperti yang dijelaskan dalam hadits
وشعبان شهري

Dan di bulah sya'ban lah Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam mendapatkan mukjizat agung dari Allah Subhanahu Wata'ala berupa terbelahnya rembulan.

Dijelaskan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan bahwa bulan Sya'ban adalah bulan bershalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, oleh karena itu kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat di setiap waktu terlebih di bulan Sya'ban yang merupakan bulannya kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

dijelaskan juga bahwa malam nisfu Sya'ban adalah waktu penentuan nasib seorang hamba, saat itulah dia mendapatkan kepastian apakah  termasuk orang yang dekat atau dijauhkan dari Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala.

Disebutkan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan sebuah riwayat dari 'Atha' bin Yasar Radhiyallahu 'Anhu yang berkata bahwa malam Nisfu Sya'ban adalah waktu di mana malaikat maut mencatat nama semua orang yang ditakdirkan menjemput ajalnya dalam rentang waktu Sya'ban tahun itu sampai Sya'ban tahun mendatang, begitu juga nama-nama orang yang berbuat dzalim, maksiyat, menikah dan bahkan menanam pepohonan, dan tidak ada malam setelah Lailatul Qodar yang lebih mulia dibandingkan dengan malam Nisfu Sya'ban.

Perlu dipahami bahwa ketentuan takdir Allah bersifat Qodim dan tidak akan pernah berubah, dan hal itu tidak bertentangan dengan keterangan beberapa hadits tentang adanya reward tambahan umur atau rejeki bagi mereka yang melakukan silaturrahim atau amal ibadah yang lain. Itu disebabkan karena maksud dari hadits-hadits tersebut adalah berkaitan dengan apa yang tertulis di Lauh Mahfudz atau di buku catatan para malaikat. Dan sangat mungkin sekali termaktub di Lauh Mahfudz atau di buku catatan para malaikat bahwa umur seseorang hanya 50 tahun lalu berubah menjadi 60 tahun karena silaturrahim yang dia lakukan sesuai dengan ketentuan Allah sejak zaman Azali bahwa dia akan bersilaturrahim dan berumur 60 tahun.

Jadi yang mungkin berubah adalah apa yang tertulis di Lauh Mahfudz atau di buku catatan para malaikat sesuai dengan ketentuan Allah yang bersifat Qodim, pasti dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Banyak keterangan yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan ketentuan pastiNya terkait ajal, amal, rejeki dan lain-lain di malam Nisfu Sya’ban.

Tujuan dipilihnya malam Nisfu Sya’ban adalah agar kita bersiap dengan amal ibadah, menjauhi maksiyat dan mengisi malam tersebut dengan berbagai macam amal shalih dengan harapan ketentuan pasti yang diturunkan di malam tersebut berkaitan dengan hidup kita adalah ketentuan yang dipenuhi dengan kebaikan dan anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan dengan itu juga kita diingatkan akan kewajiban selalu menjaga diri dengan beribadah dan menjauhi maksiyat karena sangat mungkin kita termasuk orang-orang yang termaktub menemui ajalnya di tahun tersebut.

Dalam kitab Tuhfatul Ikhwan disebutkan sebuah Riwayat bahwa kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan mengampuni semua orang muslim di malam Nisfu Sya’ban kecuali mereka yang berbuat perdukunan, sihir, saling bermusuhan tanpa sebab yang dibenarkan dalam syari’at, kecanduan minuman keras dan mereka yang durhaka kepada kedua orang tua.

Berdasarkan Riwayat di atas dan berbagai keterangan dan Riwayat lain bisa disimpulkan bahwa golongan yang dijauhkan dari ampunan dan rahmat Allah adalah sebagai berikut:

1.    Orang yang menyekutukan Allah.
2.    Orang yang saling bermusuhan tanpa sebab yang dibenarkan dalam syari’at.
3.    Orang yang berbuat ‘Isyar/mengambil sepuluh persen dari harta yang dimiliki orang lain dengan cara yang dzolim dan menyalahi aturan yang ditetapkan dalam syari’at.
4.    Pembunuh.
5.    Orang yang memutus tali silaturrahim.
6.    Orang yang memanjangkan celananya sampai melebihi mata kaki.
7.    Pezina.
8.    Peminum minuman keras.
9.    Pengadu domba.
10.    Pembuat gambar yang diharamkan dalam syari’at.
11.    Orang yang durhaka kepada orang tuanya.
12.    Ahli bid’ah.
13.    Orang syi’ah yang di dalam hatinya terdapat kebencian terhadap para Sahabat kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

Mereka adalah golongan orang-orang yang tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala di malam Nisfu Sya’ban kecuali apabila mereka bertaubat dari dosa-dosa tersebut.

Disebutkan juga dalam kitab Tuhfatul Ikhwan bahwa debit air sumur Zamzam biasanya selalu bertambah secara signifikan setiap malam Nisfu Sya’ban.


Amalan di malam Nisfu Sya’ban

Disunnahkan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al Ashfahani dari sahabaat Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu bahwa kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Barang siapa menghidupkan lima malam ini maka balasannya adalah surga, kelima malam tersebut adalah malam Tarwiyah (malam tanggal delapan Dzulhijjah), malam ‘Arofah (malam tanggal Sembilan Dzulhijjah), malam Idul Adha, malam Idul Fitri dan malam Nisfu Sya’ban.

Sebagian ulama mengatakan bahwa keutamaan Rajab ada di sepuluh hari yang pertama karena kemuliaan malam pertamanya, dan keutamaan Sya’ban terdapat di sepuluh hari yang kedua karena kemuliaan malam Nisfu Sya’ban dan keutamaan Ramadhan terdapat di sepuluh hari yang terakhir karena mulianya malam Lailatul Qodar.

Imam al Fishni menjelaskan di dalam kitab Tuhfahnya terkait banyaknya sebutan/nama yang dimiliki malam Nisfu Sya’ban dan menjelaskan nama-nama tersebut dengan hikmah dibalik penamaan tersebut, dan itu menunjukkan keistimewaan malam tersebut karena banyaknya sebutan/nama adalah indikasi akan kemuliaan suatu perkara.

Di antara nama-nama tersebut adalah الليلة المبارة  yang bermakna malam yang pernuh berkah, ليلة البراءة yang bermakna malam pembebasan, ليلة القسمة والتقدير yang bermakna malam pembagian dan penentuan dan ليلة الإجابة yang bermakna malam dikabulkannya do’a.

Sebutan ليلة الإجابة yang bermakna malam dikabulkannya do’a didasarkan pada suatu Riwayat bahwa sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘Anhu berkata:
Ada lima malam yang tidak akan tertolak do’a di dalamnya yaitu malam Jum’at, malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Lailatul Qodar dan malam dua hari raya.

Maka dari itu, disunnahkan untuk banyak berdo’a di malam-malam tersebut dengan meminta perkara-perkara yang penting dan sangat dibutuhkan oleh seorang hamba di dunia dan akhirat terutama ampunan dan keselamatan, dan diutamakan dengan do’a-do’a yang diriwayatkan dalam hadits Nabawi.

Imam al ‘Allamah Al Sayyid Al Wana’i menyebutkan bahwa termasuk do’a yang paling utama untuk dibaca di malam Nisfu Sya’ban dan malam-malam mulia lainnya adalah do’a-do’a berikut:

Do’a yang juga dianjurkan untuk dibaca pada malam Lailatul Qodar:
اللهم إنك عفوٌّ كريمٌ تحبُّ العفوَ فاعفُ عنِّي، اللهم إني أسألك العفوَ والعافيةَ والمعَافَاةَ الدائمةَ في الدين والدنيا والآخرة

Do’a Nabi Adam ‘alaihissalaam:
اَللهم إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي، وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤْلِي، وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي. اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي، وَرَضِّنِي بِقَضَائِكَ

Do'a Syekh Abdul Qodir Al Jailani:
اَللهم إِذْ أَطْلَعْتَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ عَلَى خَلْقِكَ، فَعُدْ عَلَيْنَا بِمَنِّكَ وَعِتْقِكَ، وَقَدِّرْ لَنَا مِنْ فَضْلِكَ وَاسِعَ رِزْقِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُومُ لَكَ فِيهَا بِبَعْضِ حَقِّكَ. اَللهم مَنْ قَضَيْتَ فِيهَا بِوَفَاتِهِ فَاقْضِ مَعَ ذٰلِكَ لَهُ رَحْمَتَكَ، وَمَنْ قَدَّرْتَ طُولَ حَيَاتِهِ فَاجْعَلْ لَهُ مَعَ ذٰلِكَ نِعْمَتَكَ، وَبَلِّغْنَا مَا تَبْلُغُ الْآمَلُ إِلَيْهِ، يَا خَيْرَ مَنْ وَقَفَتِ الْأَقْدَامُ بَيْنَ يَدَيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ


Beberapa ulama mengajarkan bacaan yang dianjurkan pada malam nisfu Sya’ban sebagai berikut:

Yasin tiga kali setelah sholat Maghrib, yang pertama dengan niat meminta Panjang umur, yang kedua dengan niat meminta diselamatkan dari bala’ dan yang ketiga dengan niat meminta rejeki agar tidak bergantung kepada orang lain. Dan setiap selesai membaca Yasin satu kali berdoa dengan doa berikut:

بِسْمِ الله ِالرَحْمٰنِ الرَّحِيمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَـلَّمَ. اَللهم يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطُّولِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إله إِلَّا أَنْتَ ظَهْرُ اللَّاجِئِينَ، وَجَارُ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَمَأْمَنُ الْخَائِفِينَ. اَللهم  إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ (فِي أُمِّ الْكِتَابِ) شَـقِـيًا أَوْ مَحْـرُومًـا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ اللهم بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَإِقْتَارَ رِزْقِي، وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَـزَّلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: (يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ). إِلٰهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمَ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشَفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ ، وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Referensi: Kanzun Najah Wassurur dan Tuhfatul Murid.
oleh
3.9rb Poin
[misc/was_useful]
[misc/was_useful_tell]

Pertanyaan serupa

0 Suara
0 Jawaban 152 Dilihat
Radivan Ditanyakan 23 Jul 2023
152 Dilihat
Radivan Ditanyakan 23 Jul 2023
oleh Radivan
120 Poin
0 Suara
1 Jawaban 215 Dilihat
Joko Ditanyakan 3 Apr 2023
215 Dilihat
Joko Ditanyakan 3 Apr 2023
oleh Joko
690 Poin
0 Suara
0 Jawaban 92 Dilihat
0 Suara
0 Jawaban 79 Dilihat
Teukuzelki Ditanyakan 2 Mar 2023
79 Dilihat
Teukuzelki Ditanyakan 2 Mar 2023
oleh Teukuzelki
180 Poin
0 Suara
1 Jawaban 483 Dilihat